02 September 2014

Fighter Procurement Projects Pick Up Speed

02 September 2014

KFX C-103 serie (photo : 360js, image : tiexue)

South Korea’s mega projects to develop indigenous fighters and purchase stealth warplanes are picking up pace as Seoul plans to approve crucial administrative steps at the national defense acquisition program committee in September.

At the committee, top defense officials are to approve the bidding plan for the “KFX project” to develop home-built fighters, and the result of negotiations for the FX stealth fighter procurement project will be reported, sources said.

After giving public notice of the bids for the KFX project this month, the Defense Acquisition Program Administration plans to pick the preferred bidder in November and sign a contract on the system development in December. Korea Aerospace Industries, the country’s sole fighter maker, is likely to be chosen as the system developer.



Observers say that budgetary issues remain a major barrier to the KFX project, which seeks to deploy 120 fighters after 2023 to replace South Korea’s aging fleets of F-4s and F-5s. Including both the development and mass production of the envisioned fighters, the project, the country’s largest-ever defense program, is expected to cost nearly 20 trillion won ($19.7 billion). 

Seoul has sped up the KFX project, which was already more than a decade behind schedule, as concerns have been growing over a possible shortage of fighters in the coming years. The Air Force is expected to face a shortage of around 100 fighters in 2019, when almost all of the F-4s and F-5s will be decommissioned.

Regarding the project, there was some controversy over whether the KFX would take a single-engine platform or a double-engine one. But last month, the government opted for a double-engine platform, which would increase the plane’s overall capabilities despite a potential price increase.



Seoul also seeks to sign the “letter of acceptance” for the FX project as early as September ― a process that would accelerate its acquisition of 40 radar-evading F-35 fighters from the U.S. defense firm Lockheed Martin. The FX project is estimated to cost around 7.4 trillion won.

The DAPA is in the final round of negotiations over the price with the U.S. government, while it is in talks over technology transfer and related issues with Lockheed Martin. The FX project is proceeding through a government-to-government foreign military sales program.

Pakar UAV Dunia Tawarkan "Drone" Garuda Khusus untuk Indonesia

02 September 2014


Ilustrasi Indonesian Sky Scanner Drone Garuda. (image : Kompas)

KOMPAS.com - Pakar UAV dunia menawarkan drone untuk mendukung visi presiden terpilih Joko Widodo. Penawaran tersebut dikatakan khusus untuk Indonesia.

Josaphat Tetuko Sri Sumantyo yang juga berasal dari Indonesia menawarkan drone bernama Indonesian Sky Scanner Drone Garuda.

Drone tersebut adalah jenis stratosphere drone. Drone ini dirancang terbang di ketinggian 13-20 kilometer di atas permukaan laut sehingga tidak mengganggu penerbangan sipil.

"Stratosphere drone ini saya propose khusus untuk Indonesia saja," kata Josh yang saat ini bekerja di Center for Environmental Remote Sensing, Chiba University, Jepang.

Josh telah memaparkan drone yang dikembangkannya kepada perwira di Direktorat Topografi TNI-AD dan Dinas Survei dan Pemotretan Udara TNI-AU pada 15 Agustus 2014 lalu di Jakarta.

Drone Garuda memiliki dua fungsi, sebagai drone sekaligus satelit. Selain itu, drone ini juga dapat dilengkapi dengan beragam sensor, mulai kamera hingga teleskop.

Dengan beragam sensor, drone bisa mendukung tujuan pengawasan wilayah perbatasan, penebangan dan perikanan ilegal, sampai pengejaran terorisme.

Ada beragam sensor yang bisa dibeli. Namun, Indonesia juga bisa mengembangkannya sendiri sekaligus memberdayakan ilmuwan dan akademisi di lokal.

Contoh sensor yang bisa dikembangkan Indoensia antara lain sensor cuaca dan relay telekomunikasi untuk daerah terpencil.

Untuk perangkat navigasi, Indonesia harus mengembangkan sendiri. Sistem navigasi biasa macam GPS tidak bisa digunakan sebab ketinggian maksimal pemakaian GPS adalah 18 km.

"Bila kita kembangkan dan operasikan saat ini secepatnya, maka jelas bisa dikatakan ini buatan Indonesia dan Indonesia menjadi pemimpin terdepan," urai Josh lewat email, Senin (1/9/2014).

Josh yang mengepalai Josaphat Microwave Remote Sensing Laboratory mengatakan, jumlah drone "Garuda" yang dibutuhkan sesuai dengan tujuan pemantauan.

Misalnya, jika tujuan pemakaian drone adalah untuk pemantauan daerah perbatasan kritis seperti Malaysia, Australia, dan Papua Niugini, jumlah drone yang dibutuhkan 6 unit.

Sementara, Josh mengungkapkan bahwa untuk satu unit drone, harganya adalah Rp 10 miliar, belum termasuk ragam sensornya.

Sensor setidaknya terdiri atas sensor optik dan Synthetic Aperture Radar (SAR) yang dapat tembus awan dengan harga kira-kira 10M dan 15M rupiah.

Harga tersebut berlaku bila menggunakan komponen-komponen impor. Bila komponen bisa dikembangkan sendiri dan produksi massal, harga bisa ditekan.

(Kompas)

Penerbad Latihan Bersama US Army

02 September 2014


AH-64 Apache dan Mi-35 (photo : skyscrapercity)

SEMARANG - Sebanyak 15 helikopter akan dilibatkan dalam latihan bersama (Latma) TNI AD dan US Army dalam sandi Garuda Shield atau Perisai Garuda. Latihan tersebut melibatkan personel dari berbagai cabang di angkatan darat, termasuk Penerbad, di antaranya 4 Bell-412, 2 BO-105, 2 MI-35, 1 MI-17V5, 4 AH- 64 Apache, 1 UH-60 Black Hawk, dan 1 HH-60 Black Hawk.

Latihan tersebut melibatkan 207 personel dari Penerbad dan 103 personel US Army Aviation. Latihan bersama Garuda Shield-8/2014 digelar 1-23 September mendatang di Semarang untuk aviation exercise dan di Asembagus Situbondo untuk ground force exercise yang dirangkai dengan materi aviation exercise meliputi pengintaian udara, bantuan tembakan, manuver mobilitas udara, dan evakuasi udara. Pembukaan Latma Garuda Shield-8/2014 di Lanumad AYani Semarang, Senin (1/9) dipimpin Danpus Penerbad Brigjend TNI Benny Susianto dengan ditandai penyematan tanda latihan kepada perwakilan personel TNI AD dan US Army yang berlangsung di Lanud Ahmad Yani.

KSAD Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, dalam sambutan yang dibacakan Danpus Penerbad Brigjend TNI Benny Susianto mengatakan, Latma Garuda Shield diharapkan dapat memberikan pemahaman bagi peserta latihan untuk dapat melaksanakan tugas sebagai pasukan penjaga perdamaian PBB.

Juga dalam melaksanakan tugas-tugas negara yang berhubungan dengan operasi penerbangan. “Latihan bersama ini selain untuk meningkatkan profesionalisme keprajuritan dan interoperability di antara peserta. Juga diharapkan dapat meningkatkan kerja sama, saling percaya, dan persahabatan,” katanya.

Dia menambahkan, Latma Garuda Shield tahun ini difokuskan pada materi operasi perdamaian dengan metode gladi posko (command post exercise). Kemudian melaksanakan latihan gladi lapang (field training exercise) dengan materi operasi lawan insurjensi. Juga materi perawatan dan evakuasi kesehatan dan latihan bersama personel Penerbad dalam operasi taktis dan menembak bantuan udara. (H55-39)

(Suara Merdeka)

01 September 2014

RTA Menerima 3 Helikopter UH-60M Blackhawk

01 September 2014


Helikopter UH-60M Angkatan Darat Thailand (all photos : Thai Fighter Club)

Angkatan Darat Thailand (Royal Thai Army/RTA) menerima pengiriman lanjutan berupa 3 helikopter Blackhawk jenis UH-60M buatan Sikorsky. Pada April 2013 lalu RTA juga telah menerima pengiriman helikopter Blackhawk jenis UH-60L.


Angkatan Darat Thailand memesan 16 helikopter Blackhawk secara bertahap terdiri dari 7 unit tipe UH-60M, 6 unit tipe UH-60L dan 3 unit tipe UH-60HL. Jumlah ini termasuk 1 unit Blackhawk yang jatuh pada tahun 2011 lalu.



Seri UH-60M merupakan jenis heli multirole dan sudah menggunakan full glass cockpit. Sesuai skedul RTA menerima UH-60M 3 unit pada 2014, dan akan menerima lagi 2 unit pada 2015 dan 2 unit lagi pada tahun 2016.

(Defense Studies)

Philippine Navy Interested in MV Susitna Ferry

01 September 2014


Efforts to sell an unused ferry owned by the Mat-Su borough continued Thursday Four officials from the Phillippines Navy, and a U.S. Navy advisor examined the ship during a demonstration outside of Ketchikan. (photo : gpai)

Potential Buyer Interested in Ferry

“We get a lot of typhoons, and we do a lot of disaster response operations, this is something that we can do for that purpose."

The M/V Susitna is not your typical ferry.  It was designed by the navy as a warship prototype for 75 million dollars.

With the help of the late Senator Ted Stevens, the ship was constructed in Ketchikan, creating jobs in a town that once thrived on the timber industry.

The navy gifted the boat to the Mat-Su borough three years ago when it had no use for it.  The intention was to shuttle passengers and vehicles between Anchorage and Port Mackenzie.  Those plans sunk when federal funds to build landings on each end of the Cook Inlet dried up. The ferry idea also took hit when the Knik Arm Crossing was proposed.


MV Susitna was designed as a warship prototype (photo : vigorindustrial)

Now the borough wants to sell it for $6 million.

The M/V Susitna was originally designed to carry 150 passengers and 50 vehicles, but if the Philippines Navy is interested in buying it, they plan to use it for other purposes.

"This is a very unique vessel, that we can beach it,” said Captain Carlos. “It's a catamaran type; we can load a lot of stuff in here."

It could be several months before the Philippines government makes a decision on the ship.  Meantime, the Mat-Su Borough is settling up on a bill from the federal government.  

The Federal Transit Administration wants the borough to pay back $12.5 million in grant money.  Those funds were used for pre-design and environmental studies related to the project.

Any sale of the ferry must be approved by the borough assembly and the federal government.

(KTUU)

31 Agustus 2014

2015, Markas Batalion Infanteri Hadir di Natuna

31 Agustus 2014


Satu batalyon akan hadir di daratan Kepulauan Natuna Besar yang mempunyai luas wilayah 1.720 km² (photo : Viva)

Natuna (Antara Kepri) - Pada tahun 2015 nanti, satu batalion infanteri TNI AD akan hadir di Natuna. Penambahan dan penempatan kekuatan TNI tersebut adalah sebagai salah satu upaya dalam pengembangan gelar kesatuan di wilayah terdepan NKRI.

"Benar, pada tahun 2015 nanti akan ada batalion infantri di Natuna. Ini adalah salah satu upaya dalam pengembangan gelar kekuatan pasukan TNI di wilayah perbatasan," ungkap Danrem 033/Wira Pratama Kepri Brigjen TNI B Zuirman di sela kunjungan ke Natuna, Rabu.

Jenderal bintang satu itu mengatakan, nantinya markas batalion tersebut akan ditempatkan di daerah Sepempang, Kecamatan Bunguran Timur dengan nama Batalion Infanteri 135.

"Mengapa Batalion Infanteri, sebab batalion ini adalah pasukan yang bisa di arahkan kemana saja dan siap tempur kalau terjadi apa-apa nantinya, juga taktis. Sedangkan alat perangnya adalah yang terdepan atau utama," kata Brigjen B Zuirman.

Perlu diketahui, tambah jenderal lagi, Kabupaten Natuna merupakan daerah NKRI yang berbatasan langsung dengan perairan Vietnam, dan wilayah timurnya berbatasan dengan Malaysia Timur, Thailand dan Brunei, yang bila terjadi konflik sangat riskan dijadikan musuh sebagai pangkalan sebelum masuk ke wilayah Indonesia. 

"Posisi Natuna ini sangat strategis dan banyak pulau-pulau kecil, yang dikelilingi oleh negara asing, bila terjadi konflik, sangat mungkin dijadikan pangkalan oleh musuh sebelum masuk ke wilayah RI, oleh sebab itu, perlu ada tambahan pasukan yang terpusat di wilayah ini," tambahnya. 

Sementara ini kata dia, untuk lahan, Pemerintah Daerah Natuna sudah mempersiapkannya, dan menunggu sertifikatnya saja. Sedangkan dana untuk pembangunan markas tersebut, berasal dari pusat.

"Kita juga memberikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Natuna, yang sudah mempersiapkan lahan untuk TNI, semoga pada tahun 2015 nanti apa yang kita harapkan dan bisa terwujud, demi keutuhan dan keamanan NKRI di daerah perbatasan," pungkasnya. 

(Antara)

Tank Leopard dan Marder Datang di Tanjung Priok

31 Agustus 2014



MBT Leopard 2A4 dan IFV Marder 1A3 untuk TNI AD (photos : 14aste)

Sabtu sore 30/08 kapal kargo berbendera Panama, Morning Celesta, yang membawa 52 tank Leopard dan Marder dari pelabuhan Bremenhaven, Jerman telah tiba di pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta.


Kendaraan yang dikirim dalam batch ini, dengan perincian sebanyak 24 MBT Leopard 2A4 dan 28 IFV Marder.

Untuk kendaraan IFV Marder akan dibagi ke dalam beberapa batalyon kavaleri atau infantri mekanis.

Camo baru tank TNI AD (photo : jkgr)

Sedangkan MBT Leopard 2A4 akan dibagi untuk 2 kesatuan yaitu Batalyon Kavaleri 1 Kostrad, Cijantung, Jakarta dan Batalyon Kavaleri 8 Kostrad, Pasuruan, Jawa Timur. 

Perjalanan ke Jawa Timur akan ditempuh dengan kapal kargo yang lebih kecil dengan tujuan pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.

Kendaraan yang datang dengan warna hijau polos ini selanjutnya akan mendapatkan camo baru khas TNI AD dan logo kesatuan.

(Defense Studies)